Mungkin berawal dari searching, entah itu dengan
key words nama, sekolah, tempat kelahiran, alamat e-mail etc., muncullah di
hadapan kita berderet photo2 sekaligus juga profilnya yang bikin account di
friendster. Lantas tiba-tiba kita sangat asyik betul memperhatikan photo2 yang
terkadang narsis itu, dan kemudian memutuskan untuk membaca profilnya setelah
sebelumnya memastikan bahwa photo yang mejeng itu layak untuk diakrabi.
Kemudian bisa ditebak, setelah itu kita klik link "add as friend"
yang ada di halaman fs si empunya. Dan..., sim salabim, serta merta friends
list kita semakin berjuben dengan orang-orang yang kita sendiri tidak terlalu
mengenalnya atau bahkan tidak kita kenal sama sekali. Sungguh ironis sekali!
Kita harus jujur dan tidak malu mengakuinya bahwa
sering kali kita memutuskan untuk gatal meng-add seorang itu menjadi
sahabat kita hanya lantaran beberapa photo seorang itu yang meyakinkan kita
bahwa seorang itu cute, handsome, pretty, kasep, geulis, cantik, tampan, dan
atribut perfect yang lainnya. Sebab dengan demikian, seorang yang ingin mejeng
di friendster dari jauh-jauh hari harus sudah mempersiapkan beberapa photo yang
tampil begitu perfect. Kenali wajah anda, dari sudut pandang yang mana wajah
anda kelihatan begitu cerlang, menakjubkan dan mampu menyihir orang lain untuk
betah berlama-lama melototin ur face! Dan seringkali, perempuanlah yang
berpraktik serupa itu. Coba kita perhatikan beberapa photo yang mejeng di
friendster, khususnya photo-photo kaum Hawa: Ada kecenderungan action mereka
berhadapan dengan kamera begitu prototype banget, misalnya dengan posisi wajah
yang agak ditekuk menyamping, arah mata melihat ke atas sampai terlihat
bundaran bola matanya yang besar (stylish komik jepang abis). Begitulah
perempuan dengan satu contoh ingin menampilkan sisi feminimnya, mungkin.
Sedari sekarang, gw mo interupsi: Do Not Add as
friend! bila hanya berdasar pada photo yang narsis sekaligus genit. Alih-alih
kita tergesa-gesa meng-add seorang menjadi sahabat kita hanya berdasar
pada photo setakat itu, alangkah baiknya kita pikirkan dengan masak dan
beralasan. Kenapa kita ingin menjadikan seorang itu jadi bagian sahabat kita,
apakah nantinya tidak hanya menambah jumlah friends list kita? Atau apa yang
bisa kita perbincangkan dengannya, bukankah persahabatan harus ada komunikasi
di antara keduanya? Jangan sampai persahabatan itu hanya selesai pada tahap
meng-add dan meng-aproove seorang itu, dan kita harus jujur
mengakui seringkali hal itu kita praktikkan.
So..., stop praktik "add as friend" yang
sekenanya dan semau-maunya, atau kalau perlu deleted friends list yang kita
pikir kita tak merasa menjadi sahabatnya!
Interupsi, do not add as friend!
Dikirim pada 08:10 am oleh [Candra T. Munawar]